BerandaOpiniMelawan Amnesia Sejarah: Menggali Harta Karun Kuliner Tembayat

Melawan Amnesia Sejarah: Menggali Harta Karun Kuliner Tembayat

Oleh: Wahyu I Widodo
(Pecinta Kuliner Tradisional)

TEMBAYAT, adalah sebuah daerah yang kini dikenal dengan Kecamatan Bayat, diwilayah Kabupaten Klaten, bukan sekadar titik koordinat di peta usang Mataram.

Bayat adalah tanah pusaka religius, tempat nafas spiritualitas Sunan Tembayat bertransformasi menjadi api perlawanan Panembahan Kajoran yang membakar hegemoni istana Mataram.

Sejarah mengukuhkannya, warga Tembayat adalah pemilik jiwa patriot yang liat, tangguh tanggon. Dari mobilisasi logistik era Sultan Agung, hingga gema perang gerilya Pangeran Diponegoro, Bayat berdiri tegak sebagai benteng alam dan iman yang enggan tunduk pada kolonialisme Belanda.

Namun, kolonialisme memiliki cara yang lebih sunyi daripada dentum meriam untuk melumpuhkan sebuah bangsa.

Ada sebuah kecurigaan sejarah yang beralasan, bahwa; peradaban Bayat sengaja dikaburkan, atau barangkali mungkin dikuburkan? dari ingatan kolektif bangsa.

Penjajah paham betul, bahwa untuk menghancurkan sebuah bangsa, mereka tak perlu selalu membombardir kota dan kampung warganya. Cukup hapus ingatan generasinya, putuskan akarnya, dan biarkan mereka lupa pada apa yang pernah menghidupi leluhurnya.

Salah satu cara penghapusan itu, bekerja melalui rasa. Ketika sejarah dibungkam, kuliner bisa menjelma menjadi benteng terakhir yang menjaga lidah dan ingatan sebuah peradaban.

Mari kita buka kembali Serat Centhini, mahakarya kesusastraan sekaligus ensiklopedia agung kebudayaan Jawa dari abad ke-19.

Didalam lembaran manuskripnya, para pujangga Surakarta meng-abadikan Pengembaraan spiritual Mas Cebolang. Ketika langkah kakinya menyusuri tanah perdikan Tembayat, ia tidak hanya disambut khusyuknya doa, tetapi juga kemegahan tradisi boga yang disajikan oleh keturunan Sunan Pandanaran.

Catatan perjalanan tersebut, merekam sesuatu yang spektakuler; setidaknya 48 nama masakan khas dirinci dengan begitu apik, mulai dari kuliner legendaris, dari racikan; Golong Tumpêng Mêgana, Brambang Jahe Santen Tempe, Liwêt Lêmês Akas Gurih, hingga Jangan Mênir Pêcêl Ulur-Pitik.

Angka ini menjadi bukti logis dan tak terbantahkan, bahwa jauh sebelum kolonialisme mencoba mengikis ingatan kolektif kita, Tembayat telah mengukuhkan digdayanya peradaban diatas meja makan.

Di tanah pusaka ini, resep leluhur bukan sekadar pemuas lapar, melainkan benteng rasa yang menolak tunduk pada amnesia sejarah. Namun, realitas hari ini terasa ironis. Dari puluhan resep pusaka itu, berapa gelintir yang masih sempat menyapa lidah kita?
Atau barangkali, sekadar mendengar namanya saja kita belum pernah? Kita sedang menghadapi fase kritis: amnesia rasa.

Serat Centhini, sejatinya telah membentangkan peta harta karun gastronomi yang tak ternilai. Namun, kita justru memilih berjalan dalam kegelapan, meraba dan mengeja dan terbata-bata di tanah kelahiran sendiri.

Membangkitkan kembali resep-resep leluhur ini, bukan sekadar urusan memanjakan perut. Ini adalah, upaya menjemput kembali kedaulatan kita yang sempat terkubur. Memasak makanan, adalah cara kita merawat patriotisme di dapur masing-masing.

Untuk itu, kami mengetuk pintu ingatan Anda semua. Barangkali di dapur nenek atau dalam cerita turun-temurun keluarga, resep-resep ini masih tersimpan. Mari kita rekonstruksi kembali kejayaan rasa Tembayat. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak hanya ingat nama pahlawannya, tetapi juga ingat rasa masakan dapur leluhurnya. (*)

suara buana
suara buanahttps://suarabuana.com/
https://suarabuana.com/
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments