Oleh: Yusuf Blegur
TAK PERLU lagi terguncang, menyadari ijazah palsu seorang presiden. Republik ini, sejak lampau telah terbiasa dipenuhi pengkhianat, koruptor, penjilat kekuasaan, konflik dan bahkan genosida sesama rakyatnya sendiri.
Kejahatan apalagi yang paling menyesakkan dada, lalu tak lebih menjadi sekadar ghibah dan berbantah-bantah sesama anak bangsa?
Menguras energi, ya. Menciptakan pembelahan sosial, sudah terjadi. Menimbulkan korban, itu faktanya.
Lalu, apa yang sebenarnya berlaku saat sebuah tanda tanya soal ijazah muncul di langit publik? Memancarkan polemik, kepalsuan dan keasliannya. Dari warung kopi, hingga menembus dinding istana. Dalam obrolan orang pinggiran, deras sampai terngiang di telinga penguasa. Bising, terdengar gaduh dan sampai mengusik jiwa. Getaran perdebatannya, mengoyak akal dan perasaan. Adu kuat narasi dan emosi, tak lebih sebatas melukai kesadaran makna bagi siapapun yang terlibat dan menjadi penontonnya.
Tak ada lagi tempat bagi etika, moral, dan hukum. Buang jauh-jauh tentang kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Singkirkan dulu, soal kepantasan dan kelayakan menyoal kontroversi ijazah dan si empunya. Kubur dalam-dalam, pemikiran verifikasi dan validasi sebuah pengakuan gelar akademis sekaligus marwah pendidikan termasuk sang peyandangnya.
Kenapa bisa begitu? Sebab, negeri ini memang sudah sejak lama menjunjung dan menyanjung kepalsuan dan kepura-puraan. Republik yang dasar negaranya palsu, Konstitusinya palsu. Pemimpin-pemimpinya banyak yang palsu. Bahkan, bukan tidak mungkin, presidennya juga ada yang palsu.
Apa yang menjadi cita-cita proklamasi kemerdekaan, dan keinginan luhur para pendiri bangsa, kini pun telah dipalsukan. Tak terkecuali, Tuhan dan Agama yang kerap diyakini dan ditaati hanya jadi seolah-olah. Pancasila, menjadi halusinasi. Sedangkan UUD 1945, tak lebih dari sekadar imitasi.
Celakanya dengan semua kepalsuan itu, rakyat penghuni negara yang bernama bangsa Indonesia itu, terus dipaksa dan diperkosa oleh segelintir elit politik. Sehingga nunut, untuk berpura-pura menjadi warga negara sejahtera. Berpura-pura menjadi rakyat bahagia, menikmati kesemuan adil dan makmur.
Dengan demikian, meski drama ijazah dibuat dramatis dengan episode panjang dan tak berkesudahan sekalipun. Masalahnya, bukan lagi bertumpu pada aspek forum pengadilan ataupun sekedar kejelasan dan pembuktian keabsahan nya semata.
Ijazah dari orang yang semestinya terhormat, dan menjadi teladan bagi semua anak bangsa. Kini, tak penting dan tak berlaku lagi. Selembar kertas itu, seakan menjadi simbol dari generasi penerus luka sejarah dan peradaban bangsa ini. Ada yang lebih besar, berupa masalah kebangsaan yang tragis dan memilukan. Jika, dibandingkan dengan secarik kertas keilmuan itu.
Berdasarkan jam terbang tinggi, Republik yang sarat pengkhiat, koruptor, penjilat kekuasaan, konflik dan bahkan genosida sesama anak bangsa. Indonesia memang telah terbukti, menjadi negara yang jauh dari keadaban. Negeri ini, memang mewarisi kejahatan yang tak terkira kengeriannya.
Maka, sesungguhnya gonjang-ganjing ijazah tersebut, tak lain dan tak bukan hanya cuma menyisakan panggung ghibah dan arena berbantah-bantah. Ijazah yang selamanya memegang teguh kebisuan, dari entah kebohongan dan entah kebenaran. Sekaligus, merangkai tragedi dan manipulasi sebuah bangsa yang telah menjadi dan akan terus menjadi sejarah kelam dari masa lalu, sekarang dan yang akan datang. (FC/YB)
Bekasi Kota Patriot,
28 Syawal 1447 H/17 April 2026.



