Cirebon, Suaranbuana.com_
Sebagai pesantren besar di Jawa Barat, dengan jumlah santri lebih dari 5000, Pesantren Bina Insan Mulia berkomitmen untuk ikut menggerakkan Indonesia menjadi negara maju.
Karena itu, pesantren ini terus memfasilitasi seluruh santrinya untuk melanjutkan study ke kampus terkemuka di mancanegara dan PTN terbaik dalam negeri.
Tahun ini, berdasarkan pengumuman hasil SNBP (31/Maret/26), sebanyak 25 santri dari 49 (51%) yang ikut ujian dinyatakan lulus. Dan sebanyak 49 santri dari 74 (66%) yang mengikuti ujian diterima melalui jalur SNBT sesuai pengumuman pemerintah (25/Mei/26). Mereka akan melanjutkan di ITB, UI, IPB, UPI, UNNES, UNPAD, UPNV, UNS, UNESA, UNSIKA, UNJ, UNDIP, UNSOED, UNTIRTA dll.
Pilihan fakultasnya juga beragam, antara lain: kedokteran, bisnis, teknik, MIPA, hukum, politik, ekonomi, kesehatan, sains data, dan sosial. Sisanya, sebanyak 25 santri yang belum lulus akan mengikuti jalur Internasional Undergraduate Program ( IUP), mandiri dan prestasi. Jadi total yang akan masuk PTN 99 santri.
Di tahun-tahun sebelumnya, lulusan Bina Insan Mulia juga sudah banyak berhasil menembus seleksi IUP (International Undergraduate Program) di sejumlah kampus terkemuka, seperti UI, UGM, dan UNPAD.
“Artinya, tahun ini sebanyak 36% atau 99 lulusan Bina Insan Mulia melanjutkan di PTN dalam negeri. Sisanya, sebanyak 64% atau 175 santri lulusan kelas 12 akan melanjutkan study ke berbagai kampus terkemuka di mancanegara dengan beasiswa,” jelas Kiai Imam Jazuli, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia.
Menurut Kiai Imam, kalau kita mempelajari peradaban dunia, akan kita temukan fakta sejarah bahwa perubahan besar di suatu negeri diawali dari kesediaan penduduknya untuk mempelajari keunggulan negeri lain yang sudah maju lalu diterapkan di negerinya.
“Lihatlah Cina hari ini yang dulu belajar ke Amerika, lihatlah Turkey hari ini yang dulu belajar ke Eropa, dan lihatlah Eropa di masa lalu yang belajar ke dunia Islam,” tegasnya.
Karena itu, tambah Kiai Imam, jika Indonesia ingin maju, harus banyak mengirim para talentanya ke berbagai negeri yang menjadi pusat keunggulan. Tidak sampai di situ. Setelah mereka nanti kembali, negara juga harus menjamin ruang untuk berkiprah dan memberi apresiasi yang tinggi.
Pesantren menargetkan ada 1000 sarjana lulusan luar negeri dan 1000 sarjana lulusan dalam negeri pada 2028 nanti ketika usia pesantren memasuki 15 tahun. Data pesantren menunjukkan, sebaran santri Bina Insan Mulia sudah di 16 negara: di Asia, Eropa, Timur Tingah, dan Australia. “Untuk target lulusan luar negeri, jumlahnya bisa lebih dari itu,” jelas Kiai Imam Jazuli.
Dari 175 santri yang akan melanjutkan ke luar negeri, 72% memilih study bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematic). Sisanya, 28 % memilih study Sosial Sains & Humaniora di sejumlah kampus.
Di Singapura, santri Bina Insan Mulia diterima di kampus terkemuka di negeri Singa itu, yaitu Nanyang Technological University (NTU). Mereka akan mempelajari teknologi dan engineering. Demikian juga untuk 2 santri yang akan meneruskan ke Australia dan 2 santri ke German dan 1 Prancis akan melanjutkan di bidang Teknologi dan Humaniora.
Di Rusia, 18 alumni Bina Insan Mulia diterima di 8 kampus terkemuka, seperti Lomonosov Moscow State University, Saint Petersburg State University, atau National Research Nuclear University MEPhI dll, Mereka akan fokus belajar bidang persenjataan dan pertambangan.
Sebaran paling banyak di kampus-kampus Cina. “Hari ini, Cina memimpin dunia dari berbagai sektor, mulai dari ekonomi, teknologi, atau pendidikan. Kita perlu belajar ke mereka,” kata Ubaydillah Anwar, Direktur HCM Bina Insan Mulia.
64 alumni Bina Insan Mulia tahun ini diterima di 15 kampus terkemuka di Cina dan Taiwan. Antara lain: Tsinghua, Zhejiang University, Beijing Institute of Technology, Sichuan University, Jiangsu University, Zhejiang University of Technology, National Chi Nan University (Taiwan), dan lain-lain. Selain mempelajari teknologi, para santri juga banyak yang memilih ekonomi-bisnis, dan kedokteran.
Di Turkey, 22 alumni Bina Insan Mulia tahun ini diterima di 11 kampus. Antara lain: Istanbul Universitesi, Bursa Uludaĝ Universitesi, Afyon Karahisar Universitesi, Bandırma 17 Eylul Universitesi, dan Kırklareli Universitesi. Jumlah santri Bina Insan Mulia yang tengah menyelesaikan program study S1 sudah ratusan, sebagiannya sudah melanjutkan S2 dan S3.
61 Alumni Bina Insan Mulia yang belajar ke Timur Tengah tahun ini menyebar di 4 negara: Mesir, Maroko, Tunisia, dan Pakistan. Di Mesir, jumlah alumni sudah diatas 300 santri. Bahkan Pesantren Bina Insan Mulia ditunjuk sebagai lembaga untuk mengadakan tes ke Universitas Al-Azhar Mesir.
Di Tunisia, alumni Bina Insan Mulia diterima di 2 kampus terkemuka, yaitu di Universitas Az-Zaytunah dan di Manouba University. Hingga tahun 2025 sudah ada 98 santri Bina Insan Mulia di Tunisia, selain belajar keislaman, di Negeri Gerbang Afrika itu, alumni Bina Insan Mulia sudah diterima di sejumlah fakultas umum yang menggunakan bahasa Inggris dan Prancis, seperti geopolitik, hukum, komunikasi, pertambangan, dan politik.
Alumni Bina Insan Mulia yang melanjutkan ke Maroko diterima di Universitas Al-Qarawiyyin Casablanca, kampus tertua di dunia. Mereka akan melanjutkan ke fakultas dirosah Islamiah, Sedangkan di Pakistan, alumni Bina Insan Mulia akan melanjutkan ke IIUI (Internasional Islamic University of Islamad dengan jurusan beragam: sosiologi, sejarah, geopolitik, hukum dan teknik
“Saya berharap hanya 5% saja dari santri saya yang menjadi guru ngaji di kampung seperti saya. Mereka saya dorong dan fasilitasi untuk memasuki posisi-posisi strategis di pembangunan Indonesia dengan keahlian yang mereka miliki agar menjadi bagian sentral dari perubahan,” pungkas Kiai Imam Jazuli berpesan untuk para santrinya. (AGUNG)
