BerandaDaerahLirboyo, Dari "Sarang Penyamun" Menjelma Benteng Nusantara 

Lirboyo, Dari “Sarang Penyamun” Menjelma Benteng Nusantara 

Kediri, SuaraBuana.com Kita bisa bayangkan sebuah tempat di barat Sungai Brantas, Kediri, Jawa Timur, pada awal abad ke-20. Tempat itu bernama Desa Lirboyo. Kemudian masyarakat sekitar sering menyebutnya dengan Nerboyo. Sebutan itu adalah pelesetan dari “nar” (api) dan “boyo” (buaya/bahaya). Narasi masyarakat setempat mengisahkan desa ini sebagai sarang penyamun, perampok, dan tempat angker yang jauh dari aroma wangi kitab suci.

Dan, sejarah seringkali ditulis oleh mereka yang berani membawa lentera ke tengah kegelapan. Pada tahun 1910, seorang alim asal Magelang, KH Abdul Karim (Mbah Manab), menantu dari Kiai Sholeh Banjarmelati, memutuskan menetap di desa tersebut atas dorongan mertuanya. Ini bukan sekadar perpindahan alamat. Ini adalah proyek “peradaban”.

Mbah Manab tidak membawa pedang, melainkan secarik surau kecil dan kedalaman ilmu yang ditempanya selama belasan tahun di pondok-pondok Jawa Timur—termasuk di bawah bimbingan Syaikhona Kholil Bangkalan. Alasannya sederhana namun menghunjam: Perubahan tidak terjadi dengan menjauhi keburukan, tapi dengan mendekat dan mengubahnya.

Tahun 1913, secara formal pondok itu berdiri. Narasi yang berkembang di kalangan santri, tanah Lirboyo sempat diazani selama berhari-hari untuk “membersihkan” dari pengaruh negatif. Hasilnya? Ajaib. Dalam hitungan dekade, Lirboyo—yang namanya kemudian diperhalus dari Nerboyo—berubah dari desa angker menjadi pusat studi Islam salaf terbesar di Jawa Timur.

Data menunjukkan, dari hanya beberapa santri pada tahun-tahun awal (santri pertamanya bernama Umar dari Madiun), kini Lirboyo menampung lebih dari 40.000 santri, dengan sekitar 25.000 yang menetap (mukim). Ini adalah ledakan peradaban.

Pertanyaannya, bagaimana sebuah lembaga yang bermula dari sawah dan hutan, tanpa dana pemerintah yang terstruktur, bisa mengelola 40 ribu manusia sekaligus?Jawabannya adalah kemandirian dan kepercayaan. KH Abdul Karim, dalam sebuah kisah yang masyhur, tetap mencangkul di sawah meski santrinya sudah ribuan.

Pendidikan di Lirboyo adalah perpaduan antara ketaatan, tirakat (spiritualitas), dan disiplin tinggi. Sistem madrasah yang dimulai tahun 1925, Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, menjadi tulang punggung metode pengajaran kitab kuning yang tertib. Selain itu, santri dididik untuk mandiri. Lirboyo juga memiliki unit usaha, dan kini santri dibekali teknologi, bahkan menggunakan aplikasi “Saldo Sangu” untuk transaksi harian santri.

Jasa Lirboyo pada masyarakat sekitar bukan hanya menjadikan kawasan santri dan kondisi sosil yang lebih beradad, bahkan mencetak ulama, tapi juga menanamkan jiwa patriotiame dan nasionalosme. Saat penjajah Belanda dan Jepang menindas, Lirboyo menjelma menjadi basis perlawanan. Data historis menunjukkan, saat Belanda kolonial menduduki wilayah Kediri, pesantren adalah pusat pertahanan.

Puncaknya, ketika Resolusi Jihad dikumandangkan oleh KH Hasyim Asy’ari, Lirboyo di bawah komando KH Mahrus Aly (menantu Mbah Manab) mengirimkan 97 santri langsung ke medan perang 10 November 1945 di Surabaya. Pemuda-pemuda yang biasa memegang kitab, harus memegang bambu runcing dan senjata rampasan Jepang. Mereka melucuti tentara Jepang sebelum Sekutu datang. Lirboyo adalah saksi bahwa nasionalisme lahir dari dalam surau.

Lirboyo mengubah lanskap sosial ekonomi Kediri. Desa Lirboyo yang dulunya rawan, kini tumbuh menjadi kawasan ekonomi yang hidup karena puluhan ribu wali santri yang datang dan pergi. Jasa terbesarnya diantaranya adalah mengubah masyarakat rawan menjadi aman.

Lirboyo adalah bukti bahwa kesalehan dan nasionalisme adalah dua sisi mata uang yang sama. Saat ini, dengan usianya yang sudah lebih dari 110 tahun, Lirboyo tetap kokoh. Perawatan gedung-gedung tua, pembangunan asrama baru yang megah, bahkan renovasi yang melibatkan tenaga profesional, membuktikan Lirboyo siap menantang zaman tanpa kehilangan identitas salafnya. Mbah Manab telah menanam benih, Kiai Marzuki dan Kiai Mahrus menyiramnya, dan kini para dzuriyah (keturunan) meneruskan lentera itu, dan menyinari Nusantara. Penulis merasa bersyukur dan bangga, menjadi bagian dari yang mendapatkan lentera itu. Wallahu’alam bishawab. (KH. Imam Jazuli, Lc. MA / AGUNG)

suara buana
suara buanahttps://suarabuana.com/
https://suarabuana.com/
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments