BerandaOpiniPerusak Reputasi Itu Bernama Al Misry

Perusak Reputasi Itu Bernama Al Misry

uri Hafiz Quran Tersangka Kekerasan Seksual

AGAMA, sejatinya indah dan menyejukkan. Namun, sering dirusak oleh oknum yang terpeleset oleh keruntuhan iman, sebagaimana yang seperti dilakukan pendakwah bernama Al Misri ini.

Gara-gara nafsu birahi sudah ke ubun-ubun, ia pun sampai melakukan kekerasan seksual. Disebutkan ada lima korban, ada juga yang bilang 18 korban akibat nafsu kejantanan yang tidak bisa dikontrolnya itu.

Mari kita telisik dulu, siapa sebenarnya Al Misri yang sudah merusak reputasi dirinya sendiri sebagai orang yang dikenal memiliki status beragama Islam ini.

Nama lengkapnya Ahmad Abdelwakil Elsayed Mohamed Ahmed, atau Ahmad Al Misry, bukan nama kecil di dunia dakwah. Ia adalah produk pendidikan elit, lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, S1 Syariah Islamiyah sekitar 2009, dengan bekal ilmu fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf. Empat pilar yang seharusnya cukup kokoh untuk menopang moral, bukan malah justru menjadi latar belakang keruntuhan nama baiknya.

Ia datang ke Indonesia sekitar 2010, lalu tumbuh seperti fenomena yang sulit dibendung. Majlis taklim, pesantren, hingga acara keagamaan nasional menjadi habitatnya. Televisi terkenal pun mengangkatnya ke level berikutnya, sebagai salah satu juri Hafiz Indonesia, juga pengisi acara Damai Indonesiaku di tvOne, serta Khazanah dan Jazirah Islam di Trans7, hingga Shodaqoh Yuk! di RTV.

Sosoknya tampil, dengan gaya yang nyaris tanpa cela. Tenang, lembut, fasih berbahasa Indonesia dan ini membuat jamaah merasa sedang mendengar kebenaran yang disampaikan dengan volume rendah agar lebih meresap.

Kehidupan pribadinya? Dijaga seperti rahasia negara. Status menikah ada, tapi identitas istri dan anak tidak pernah benar-benar muncul ke permukaan. Dulu ini dianggap bentuk kehati-hatian. Sekarang justeru terasa seperti bab yang sengaja dikosongkan dalam buku dan nyatanya penuh catatan kaki gelap.

Prestasinya menggunung, pengaruhnya meluas. Sosoknya disebut, sebagai salah satu pendakwah asing paling dikenal di Indonesia. Bahkan, dianggap melanjutkan peran dakwah figur besar sebelumnya.

Semuanya tampak rapi, seperti panggung yang sudah disusun dengan sempurna, lampu, suara, dekorasi, hingga seseorang menyalakan lampu yang lebih terang dan memperlihatkan debu yang selama ini tidak ingin dilihat.

Lalu datang momen itu, dingin, resmi, dan mematikan. Kepolisian menetapkan Ahmad Al Misry sebagai tersangka dugaan kekerasan seksual.

Brigadir Jenderal Trunoyudo Wisnu Andiko mengumumkannya pada 24 April 2026, hasil gelar perkara yang katanya demi perlindungan korban. Kalimat yang terdengar administratif, tapi di baliknya ada cerita panjang yang tidak bisa disederhanakan.

Pasal yang dikenakan bukan sekadar formalitas: Pasal 415 huruf b dan/atau Pasal 417 KUHP 2023, serta Pasal 6 huruf b UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

Rentang kejadian? 2017 hingga 2025. Delapan tahun yang membentang dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Kairo, Mesir, seolah-olah ini bukan dugaan kejahatan, tapi perjalanan panjang yang terus diulang tanpa ada yang menghentikan.

Adapun jumlah korban resmi yang melapor, ada lima. Namun, pendamping korban memperkirakan jumlah sebenarnya bisa mencapai 18 orang. Angka yang tidak lagi terasa seperti statistik, tapi seperti gema yang terus memantul, memperbesar kekecewaan publik.

Pria berusia 39 tahun yang kini berstatus warga negara Indonesia ini, berdiri di titik paling sunyi dalam kariernya, titik dimana semua gelar, semua prestasi, semua citra santun, runtuh tanpa suara gemuruh. Hanya menyisakan, rasa getir yang sulit dijelaskan.

Sosoknya, pernah menjadi wajah dakwah yang menenangkan. Kini, ia justeru menjadi simbol, bagaimana kepercayaan bisa dihancurkan dari dalam, perlahan, dan dengan cara yang paling menyakitkan. Bahkan, tak sedikit orang yang menduga hal tersebut akan menjadi kabar ironis. Jika semua ini terasa berlebihan, kejam, atau tidak ingin dipercaya, tapi kenyataannya, itulah inti dari kisahnya ini.

Karena, tidak semua kekecewaan datang dengan peringatan. Beberapa justeru datang, dengan nama yang dulu pernah kita hormati. Namun kejatuhan sosok seperti orang ini, bukan berarti merupakan kejatuhan Agama yang ia anut dan dituliskan di status KTP. Jadi, pahami dan camkanlah itu!

Agama mengajarkan kita manusia untuk mencapai kepada akhlak yang baik, tapi semua tentunya kembali kepada sang penganutnya. Ketika keimanan hanya setipis kertas, tentu saja akan mudah koyak oleh gelombang angin yang berhembus kencang dan basah. Sesungguhnya, itu pun bisa terjadi kepada siapa saja. (FC/RJ)

 

Sumber:

Rosadi Jamani (Ketua Satu Pena Kalbar)

suara buana
suara buanahttps://suarabuana.com/
https://suarabuana.com/