Jombang, Suarabuana.com_
Bulan Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga peluang ekonomi bagi rakyat kecil yang berjualan musiman. Mereka bisa hadir dimanapun di pusat keramaian di luar lokasi pasar. Di trotoar, depan masjid, sekitar pasar dan terminal dengan berbagai cara. Aturan dilarang berjualan di tempat yang tidak semestinya seringkali bergesekan dengan aktifitas pedagang musiman. Satpol PP sebagai aparat penertiban seringkali terlibat bentrok dengan para pedagang.
“Berita satpol PP melarang pedagang musiman di berbagai daerah menjadi dilema sosial. Aturan harus ditegakkan, namun sisi kemanusiaan juga harus dipertimbangkan. Ibu-ibu jualan di trotoar masjid secara aturan tidak boleh. Berdagang takjil di jalan depan rumahnya juga tak luput dari teguran petugas. Pedagang ayam keliling juga dianggap mengganggu. Selama mereka tidak menganggu lalu lintas dan orang lain kenapa harus dilarang. Toh juga tidak setiap hari, dan hanya pas bulan Ramadhan menjelang buka puasa. Ini menjadi fenomena sosial yang cukup mengganggu ibadah puasa kita” ungkap AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) selaku Ketua Umum PNIB menanggap viral perselisihan pedagang kecil dengan satpol PP yang terjadi di berbagai daerah.
Gus Wal mengecam keras aksi tanpa toleransi yang sengaja dilakukan di bulan Ramadhan oleh petugas Satpol PP. Menurut Gus Wal, aturan yang tidak secara langsung merugikan material seharusnya bisa mendapat kebijaksanaan di lapangan.
“Aturan dibuat untuk menjaga ketertiban. Aparat (Satpol PP) kan manusia yang punya hati, bukan mesin. Jadi mesti menjalankan aturan menggunakan nurani, bukan dengan kekuasaan. Di sisi lain terjadi pergeseran fenomena sosial di bulan Ramadhan ini. Sweeping ormas tertentu pada rumah makan yang buka siang hari sudah tidak terjadi, tetapi mengapa harus diganti sweeping pedagang musiman hingga menimbulkan keributan?” imbuh Gus Wal.
Gus Wal menghimbau semua pihak untuk saling menahan diri di bulan suci ini. Kepentingan rakyat kecil seharusnya menjadi prioritas dalam situasi ekonomi yang sedang tidakbaik-baik saja ini.
“Mari kita saling menahan diri untuk tidak berkonflik di bulan Ramadhan ini. Pedagang kecil berjualan hanya untuk bertahan hidup, bukan untuk menumpuk kekayaan. Koruptor dan pejabat kaya hidup tenang sementara rakyat kecil diburu aturan. Bangsa ini tidak akan hancur hanya karena banyak warganya berdagang di sembarang tempat, namun akan bubar kalau orang-orang koruptor dibiarkan, dilindungi dan tidak dimiskinkan. Merekalah musuh bangsa yang sesungguhnya” pungkas Gus Wal. (AGUNG)



