Oleh: Yusuf Blegur
KOMITMEN melindungi dan menyelamatkan rakyat serta segenap tumpah darah Indonesia, sebenarnya tengah diuji dan tentunya harus di pertanggungjawabkan.
Di dalam negeri rakyat dibunuh dan bunuh diri, di luar negeri tiga prajurit TNI putra bangsa tercinta, juga harus gugur mengenaskan tanpa pembelaan dan kecaman, tanpa gelora nasionalisme dan patriotisme.
Sejak terpilih dan dilantik menjadi presiden dan wakil presiden, usai pilpres 2024, pasangan Prabowo-Gibran semakin mengalami degradasi kepemimpinannya. Penurunan kualitas negara dan pemerintahan, terus berlanjut sejak dipegang oleh Prabowo-Gibran.
Rakyat kerap dipertontonkan orasi, statemen dan narasi yang seolah-olah nasionalis dan patriotis. Meledak-ledak dan terkesan memukau di atas podium dan panggung, namun melempem saat implementasi.
Presidennya jago teaterikal, wakil presidennya gemar melakukan aksi gak nyambung sambil planga-plongo.
Rakyat Indonesia, terus menjadi korban. Saban hari, dipaksa untuk menghitung banyaknya kebijakan ugal-ugalan pemerintah. Distorsi menyeluruh di bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan hukum serta pertahanan keamanan. Negara kehilangan kehormatan dan martabat baik di mata bangsanya sendiri maupun dalam pandangan internasional.
Dengan rekam jejak kecurangan, sekaligus kejahatan konstitusi dan demokrasi dalam pilpres 2024. Ditambah, pengalaman dalam pemerintahan sebelumnya yang disinyalir sarat pelanggaran HAM dan korupsi. Prabowo memimpin Indonesia, sambil dibayangi sikap skeptis dan apriori publik. Menjadi presiden, yang diliputi bayang-bayang dosa politik dan kemanusiaan masa lalu.
Berhembus angin kencang warisan aib yang tak bisa dibantah, bahkan Prabowo pernah mengakuinya secara terbuka. Prabowo melenggang meraih kekuasaan tertinggi di republik ini, dengan menggandeng kekuatan rezim lama yang menjadi benih dan luar biasa daya rusaknya.
Jadilah Prabowo-Gibran, pasangan presiden dan wakil presiden Indonesia yang kental distorsi, konspirasi dan manipulasi. Teriakan lantang; “Hidup Jokowi !” di hadapan publik menjadi bukti tak terbantahkan.
Inkompetensi kepemimpinan, bukan hanya membawa Indonesia ke jurang krisis ekonomi dan politik yang mengarah chaos. Pasangan Prabowo-Gibran, juga sukses membawa Indonesia terindikasi sebagai negara gagal.
Rusak didalam, hancur diluar. Begitulah imej negara, dipandang oleh rakyatnya sendiri dan negara-negara lain. Pengelolaan negara, tidak dilakukan oleh orang-orang yang kompeten. Aparatur pemerintahan, banyak diisi oleh orang-orang tanpa kapasitas dan integritas.
Tak sekedar tanpa pengetahuan dan kemampuan teknis, para pemangku kepentingan publik strategis lebih memperlihatkan perilaku tak beretika, amoral dan intens mengangkangi hukum. Isinya lebih banyak maling, perampok, pengkhianat dan penjahat, dengan seragam kebesaran, berwibawa, mewah dan mahal hasil keringat rakyat.
Dalam kehidupan lokal, cita-cita rakyat akan negara kesejahteraan (wellfare state) harus bertarung dengan realitas ketiadaan fungsi pemerintah (goverment less) dan negara gagal (failed state). Rakyat harus berhadapan, dengan kejahatan yang difasilitasi pejabat atau negara (state organized crime).
Kemiskinan rakyat bersaing dengan korupsi, harga sembako, BBM dan listrik yang tinggi, melawan korupsi, pajak mencekik, beradu dengan pemaksaan, eksplorasi kekayaan alam, juga harus bertarung dengan pembohongan program korup.
Sepertinya, korupsi menjadi satu-satunya senjata dan prestasi negara dan pemerintahan sejak beberapa dekade ini.
Dipenjara, dianiaya, disiram air keras, dibunuh, bahkan harus bunuh diri seperti telah menjadi standar ketidakmampuan rezim mengelola pemerintahan dan upaya menutupi distorsi penyelenggaraan negara. Rakyat terus jadi bulan-bulanan, dari keserakahan dan kedzoliman pemerintahannya sendiri.
Dalam kehidupan internasional, tak cukup sekadar menjadi negara merdeka yang kehilangan kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Republik bernama Indonesia itu, semakin terjerumus sebagai bangsa jongos, menjadi pesuruh dan kaki tangan negara-negara imperialis kolonialis. Tanpa kehormatan, tanpa kewibawaan dan tanpa martabat sebagai sebuah negara, bangsa yang pernah disegani dan diakui dunia karena Konferensi Asia Afrika tahun 1955 dalam spirit membangkitkan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia Afrika dan Gerakan Non Blok yang menegaskan politik bebas aktif dalam pergaulan internasional.
Kini, Pasangan Prabowo-Gibran bukan cuma melecehkan sejarah dan ideologi tersebut. Kepemimpinan nasional yang layak dijuluki cap tikus itu, benar-benar mengangkangi konstitusi dan mandat rakyat Indonesia.
Kebijakan pemerintah ikut terlibat dalam Board of Peace (BoP) dan Agreement on Reciprocal Trade (ART), sejatinya menjadi penjajahan terhadap kedaulatan politik dan ekonomi Indonesia dalam kancah internasional. Terutama, oleh Amerika dan Israel.
Sekali lagi, pasangan Prabowo-Gibran telah nyata-nyata melakukan kejahatan dan pengkhianatan pada Pancasila, UUD 1945 dan semangat serta cita-cita NKRI. Lebih dari itu, rezim hipokrit ini, juga telah menghina dan merendahkan perjuangan sekaligus pengorbanan para pendiri bangsa, para pahlawan dan syuhada,. Juga merusak wibawa Soekarno – Soeharto yang tegas-tegas tak akan mengakui negara Israel sebelum Palestina merdeka, serta seluruh rakyat pada umumnya dan umat Islam khususnya.
Tak lagi ada toleransi, tak ada lagi kompromi. Negara, bangsa Indonesia, tegas menyatakan anti penjajahan dan penindasan sebagaimana tertuang dalam konstitusi. Terlebih ketika tiga prajurit TNI tercinta, harus gugur sia-sia dan mengenaskan oleh Aliansi Amerika-Israel yang kalian puja-puja dalam kebodohan dan kepongahan kekuasan keblinger, jika tak mau disebut distorsi.
Prabowo-Gibran, mana tanggungjawab kalian untuk melindungi dan menyelamatkan rakyat serta segenap tumpah darah Indonesia?! Sadar dan bertaubatlah, Prabowo-Gibran.
Sebelum Expired !!
Bekasi Kota Patriot,
15 Syawal 1447/4 April 2026



