Disusun oleh: Ketua Kantor Hukum Abri
PENDAHULUAN
Masa abad 4 hingga 8 M merupakan periode penting bagi perkembangan peradaban global. Di Jawa Tengah, wilayah yang mencakup dataran tengah Pulau Jawa dan bagian pesisir utara seperti Jepara, Demak, serta Pati saat ini, muncul kerajaan-kerajaan dengan fondasi ekonomi dan budaya yang kuat. Di kawasan Arab, terjadi transformasi besar dari masyarakat berbasis suku menjadi kekaisaran berpengaruh luas. Kajian ini membahas kedua peradaban tersebut dengan fokus perbandingan pada abad 6.
PERADABAN JAWA TENGAH
Wilayah Jawa Tengah pada masa itu mencakup lembah sungai Progo, Elo, dan Bengawan Solo yang melintasi Kabupaten Sleman, Magelang, Sukoharjo, Klaten, dan Boyolali. Bagian pesisir utara meliputi wilayah sekarang Jepara, Demak, dan Pati yang menjadi jalur perdagangan utama.
Sejarah Perkembangan
Pada abad 4-5 M, pemukiman kompleks tumbuh dengan sistem pertanian irigasi terorganisir dan hubungan erat dengan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Pada abad 6 M, Kerajaan Kalingga berdiri sebagai pusat perdagangan yang menjalin hubungan dengan Tiongkok dan India. Pada abad 7-8 M, Kerajaan Mataram Kuno muncul dengan dua dinasti yaitu Sanjaya (Hindu Siwa) dan Syailendra (Buddha Mahayana) yang membangun struktur seperti awal konsep Candi Borobudur dan Prambanan.
Aspek Peradaban pada Abad 6 M
Agama masyarakat Jawa Tengah awalnya berlandaskan animisme-dinamisme yang menghubungkan manusia dengan alam dan leluhur. Ajaran Hindu dan Buddha masuk melalui jalur perdagangan lalu menyatu dengan tradisi lokal membentuk karakter unik. Kuil dan candi berfungsi sebagai tempat ibadah, simbol kekuasaan, dan pusat pendidikan. Pemerintahan menggunakan sistem monarki dengan konsep cakravartin di mana raja dianggap memiliki hubungan ilahi dan dibantu oleh bangsawan serta pejabat yang mengelola wilayah dan pembangunan irigasi. Ekonomi berbasis pertanian sawah irigasi yang menghasilkan surplus pangan. Perdagangan rempah-rempah, emas, dan tekstil menjadi sektor penting dengan pelabuhan di pesisir utara sebagai titik utama jalur perdagangan maritim Asia. Budaya berkembang dengan pembangunan candi seperti Gunung Wukir dan Candi Badut. Penggunaan aksara Pallawa menjadi dasar pembentukan aksara lokal yang digunakan untuk mencatat sejarah dan hukum. Pada abad 6 M, Kerajaan Kalingga berkembang pesat dengan struktur sosial jelas meliputi penguasa, bangsawan, pendeta, petani, pedagang, dan pekerja tangan. Ajaran Hindu dan Buddha mulai meresap luas namun tradisi lokal tetap dijunjung tinggi. Aktivitas perdagangan internasional berjalan lancar dengan barang dari Jawa Tengah mencapai Tiongkok dan India.
PERADABAN DAERAH ARAB
Wilayah Arab pada masa itu mencakup semenanjung Arab yang sekarang menjadi negara seperti Arab Saudi, Yaman, Suriah, dan sekitarnya.
Sejarah Perkembangan
Pada abad 4-5 M, masyarakat didominasi oleh suku nomaden Bedouin yang hidup dari ternak dan perdagangan lintas gurun. Terdapat kerajaan seperti Ghassan di utara dan Himyar di selatan (Yaman) dengan sistem pemerintahan terstruktur. Pada awal abad 6 M, Mekkah berkembang sebagai pusat perdagangan dan tempat penyembahan berhala dengan Ka’bah sebagai pemujaan utama berbagai suku. Ajaran Islam diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW pada tahun 610 M. Setelah menghadapi penindasan, beliau hijrah ke Madinah pada tahun 622 M dan menyatukan suku Aus dan Khazraj berdasarkan prinsip Islam. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, masa Khulafaurrasyidin berlangsung sebelum kekhalifahan Bani Umayyah membangun kekaisaran yang luas hingga Spanyol dan India.
Aspek Peradaban pada Abad 6 M
Agama masyarakat Arab awalnya mencakup berbagai kepercayaan seperti penyembahan berhala, Kristen, Yahudi, dan Zoroastrian. Setelah munculnya Islam, nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan penghormatan hak asasi menjadi dasar kehidupan. Pemerintahan awalnya berbasis konfederasi suku yang sering berselisih. Setelah munculnya Islam, berkembang menjadi sistem khalifah dengan struktur administrasi terorganisir. Ekonomi berbasis perdagangan jalur darat dan laut dengan produk utama mutiara, kayu aromatik, dan tekstil. Setelah berkembangnya Islam, sektor pertanian dan perkebunan juga tumbuh pesat. Budaya berkembang dengan seni puisi yang tinggi sebagai sarana ekspresi dan pelestarian tradisi suku. Bahasa Arab berkembang menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan sastra dengan karya yang diterjemahkan dari Yunani, Persia, dan India. Pada abad 6 M, Arab berada dalam Zaman Jahiliyah di mana penyembahan berhala masih berlangsung namun seni puisi berkembang tinggi. Masyarakat hidup berdasarkan sistem suku dengan rasa kesetiaan kuat meskipun sering terjadi perselisihan. Sebagian besar masyarakat adalah nomaden sementara kota seperti Mekkah dan Madinah menjadi pusat perdagangan dan sosial.
ULASAN PERBANDINGAN ABAD 6 M
Aspek Agama
Di Jawa Tengah, agama berkembang dari animisme-dinamisme yang menyatu dengan ajaran Hindu dan Buddha membentuk karakter budaya unik. Di Arab, kondisi awal mencakup berbagai kepercayaan hingga munculnya Islam yang menjadi dasar nilai kehidupan masyarakat.
Aspek Pemerintahan
Jawa Tengah menerapkan sistem monarki ilahi dengan struktur bangsawan dan pejabat yang mengelola wilayah serta pembangunan infrastruktur. Di Arab, sistem awal berbasis konfederasi suku yang sering berselisih hingga berkembang menjadi sistem khalifah yang terorganisir setelah munculnya Islam.
Aspek Ekonomi
Ekonomi Jawa Tengah berbasis pertanian irigasi dan perdagangan rempah-rempah, emas, serta tekstil dengan pelabuhan di pesisir utara sebagai titik penting. Di Arab, ekonomi berbasis perdagangan jalur darat dan laut dengan produk seperti mutiara dan kayu aromatik, serta berkembangnya sektor pertanian setelah munculnya Islam.
Aspek Hubungan Luar
Jawa Tengah menjalin hubungan dengan Tiongkok, India, dan wilayah Nusantara lainnya. Di Arab, hubungan awal terjalin dengan Bizantium, Persia, dan kawasan sekitar semenanjung sebelum jaringan diperluas hingga berbagai benua setelah munculnya Islam.
Aspek Perkembangan
Jawa Tengah berkembang menjadi peradaban agraris dengan budaya Hindu-Buddha yang menyatu dengan tradisi lokal. Di Arab, terjadi transformasi dari masyarakat suku menjadi kekaisaran besar yang menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya dunia.
KESIMPULAN
Peradaban Jawa Tengah dan Arab pada abad 4-8 M memiliki karakter berbeda akibat konteks geografis dan sejarah yang unik. Jawa Tengah berkembang sebagai peradaban agraris dengan budaya Hindu-Buddha yang menyatu dengan tradisi lokal dan berperan penting dalam jalur perdagangan maritim. Di Arab, terjadi transformasi dari masyarakat suku menjadi kekaisaran Islam yang menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya dunia. Kedua peradaban memberikan kontribusi berharga bagi perkembangan dunia dan menunjukkan bahwa peradaban tidak berkembang secara terisolasi melainkan saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.
DAFTAR REFERENSI
1. Coedes, George. The Indianized States of Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press, 1968.
2. Geertz, Clifford. Agrarian Society in Java. Chicago: University of Chicago Press, 1963.
3. Smith, Wilfred Cantwell. Islam in Modern History. Princeton: Princeton University Press, 1957.
4. Djojosusilo, Slamet. Sejarah Kuno Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996.
5. Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 1. Jakarta: Balai Pustaka, 2005.
6. Hourani, Albert. Sejarah Peradaban Arab. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1991.
7. Hitti, Philip K. Sejarah Bangsa Arab. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1985.
8. Soekmono, R. Candi-candi Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1982.
9. Manguin, Pierre-Yves. Peradaban Maritim Nusantara Kuno. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2016.
10. Nasr, Seyyed Hossein. Peradaban Islam dan Tantangan Modern. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.
11. Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008.
12. Al-Azmeh, Aziz. The Times of History: Universal Topics in Islamic Historiography. Budapest: Central European University Press, 2007.



