BerandaOpiniMENELITI MARAKNYA PERCERAIAAN DI KALA SUAMI SEDANG BERMASALAH

MENELITI MARAKNYA PERCERAIAAN DI KALA SUAMI SEDANG BERMASALAH

Oleh: Bang Haji Bogor Raya
Tukang Kayu Pinggiran Jalan Sukahati
Cp. 0818-966-234
Tanggal: 24 Januari 2026

□□□》KAJIAN BERDASAR PENULISAN SEBELUMNYA.

Peningkatan jumlah perceraian menjadi isu sosial yang membutuhkan perhatian serius, terutama ketika kasus tersebut melibatkan suami yang sedang menghadapi kesulitan hidup. Faktor-faktor seperti kesulitan ekonomi, tekanan pekerjaan, gangguan kesehatan mental, dan dinamika norma sosial yang mengakar berkontribusi terhadap fenomena ini. Kajian ini menganalisis penyebab tingginya angka perceraian dalam kondisi tersebut, dengan merujuk pada literatur ilmiah dan keterkaitan dengan kajian sebelumnya tentang pria di masa sulit. Data dari Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat bahwa angka perceraian meningkat 12% pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan sebagian besar kasus melibatkan suami yang mengalami kesulitan ekonomi atau psikologis.

●》DASAR KAJIAN DAN SUMBER ILMIAH

Kajian ini berdasarkan tinjauan literatur ilmiah dari berbagai bidang terkait perkawinan dan kesehatan masyarakat:

UNFPA (2023) mengungkapkan bahwa ketidakstabilan ekonomi menjadi penyebab utama 45% kasus perceraian di negara berkembang, dengan stres keuangan sebagai pemicu konflik berkelanjutan.

Journal of Marriage and Family (2022) menyebutkan bahwa kesulitan ekonomi atau kehilangan pekerjaan meningkatkan risiko perceraian hingga 38%, dengan perubahan pola komunikasi sebagai faktor kunci perpecahan.

WHO (2022) menjelaskan bahwa kondisi mental pria yang terpuruk menyebabkan penarikan diri emosional, dimana kurangnya kemampuan mengekspresikan perasaan menjadi hambatan utama keharmonisan perkawinan.

Lembaga Penelitian Keluarga Indonesia (2024) mencatat bahwa 62% kasus perceraian tahun 2023 hingga 2024 berkaitan dengan kesulitan ekonomi suami, diikuti perbedaan pandangan dan kurangnya dukungan emosional.

Eagly & Wood (2012) serta Levant et al. (2016) menunjukkan bahwa harapan masyarakat terhadap peran suami sebagai pencari nafkah memperparah beban psikologis ketika mereka tidak mampu memenuhi ekspektasi.

Penelitian Addis & Mahalik (2003) dalam The Psychology of Men and Masculinity menegaskan bahwa norma maskulin yang menganggap meminta bantuan sebagai tanda kelemahan membuat suami sulit mencari dukungan, sehingga memperburuk kondisi perkawinan.

□□□□□》 FAKTOR PENYEBAB PERCERAIAAN DI KALA SUAMI BERMASALAH

1. TEKANAN EKONOMI

Kesulitan finansial seperti kehilangan pekerjaan, pendapatan menurun, atau utang menumpuk memicu konflik sehari-hari. Suami merasa gagal tidak dapat memenuhi peran sebagai pencari nafkah, sementara istri mengalami ketidakpastian masa depan. Penelitian Journal of Family and Economic Issues (2023) menunjukkan bahwa perselisihan tentang pengelolaan uang dan perbedaan prioritas menjadi sumber konflik utama yang sulit diselesaikan.

2. PENARIKAN DIRI EMOSIONAL

Suami yang terpuruk cenderung menarik diri dari interaksi sosial dan emosional, menjadikan istri merasa diabaikan atau ditinggalkan. Kurangnya komunikasi efektif membuat masalah semakin membesar dan kedua pasangan sulit menemukan titik temu dalam menyelesaikan konflik.

3. PERUBAHAN DINAMIKA PERAN

Norma tradisional yang menempatkan suami sebagai kepala keluarga dan satu-satunya pencari nafkah membuatnya merasa terancam saat istri mengambil peran lebih besar. Perubahan ini menciptakan konflik karena suami merasa kehilangan kedudukan dan istri merasa terbebani tanggung jawab tambahan. Penelitian Lembaga Penelitian Keluarga Indonesia (2024) menunjukkan bahwa 53% pasangan yang mengalami perubahan peran ini menghadapi konflik berkepanjangan.

4. HARAPAN SOSIAL YANG TIDAK REALISTIS

Tekanan dari keluarga besar dan masyarakat untuk menjadi pencari nafkah sukses memperburuk kondisi psikologis suami. Kesulitan yang dialaminya sering dianggap sebagai tanda ketidakmampuan, membuatnya merasa malu dan semakin menarik diri. Istri juga dapat merasa tertekan oleh pandangan orang lain, sehingga mempertimbangkan perceraian.

5. KURANGNYA PEMAHAMAN DAN DUKUNGAN

Pasangan sering tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan memadai untuk mengatasi masa sulit bersama. Istri yang tidak memahami bahwa perilaku suami yang menjauh adalah bentuk pertahanan psikologis cenderung menganggapnya sebagai kurangnya perhatian. Suami yang tidak mampu mengungkapkan kebutuhannya merasa tidak mendapatkan dukungan, sehingga semakin memperkuat keputusannya untuk menarik diri atau menyetujui perceraian.

□□□□□》 KETERKAITAN DENGAN KAJIAN SEBELUMNYA

Kondisi emosional dan sosial pria yang terpuruk memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas perkawinan. Karakteristik seperti merasa gagal menjadi diri yang diharapkan, tidak terbiasa mengekspresikan emosi, takut mengecewakan orang lain, ingin menyelesaikan masalah sendiri, dan tidak ingin dilihat dalam kondisi rapuh.semua berkontribusi terhadap dinamika tidak sehat dalam perkawinan. Jika pasangan memahami bahwa perilaku suami berakar dari tekanan sosial dan norma gender yang mengakar, mereka memiliki peluang lebih baik untuk melalui masa sulit bersama. Penelitian Schaefer et al. (2021) menunjukkan bahwa pasangan yang memberikan dukungan emosional dan memahami kondisi suami memiliki tingkat kelangsungan perkawinan hingga 65% lebih tinggi.

□□□□□》 PESAN PENTING DAN SARAN

Penyebaran informasi tentang dinamika keluarga dan kondisi pria di masa sulit perlu dilakukan secara luas melalui sekolah, lembaga agama, dan organisasi masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang cara mendukung pasangan yang mengalami kesulitan.

●》PELATIHAN KOMUNIKASI

Meningkatkan keterampilan komunikasi antar suami istri menjadi penting. Pelatihan tentang cara menyampaikan perasaan, mendengarkan dengan empati, dan mencari solusi bersama dapat membantu mengatasi konflik akibat kesulitan yang dihadapi.

□□□□□》DUKUNGAN DARI PARA PIHAK.

Pemerintah dan lembaga sosial perlu menyediakan layanan konseling perkawinan yang mudah diakses. Program kesehatan mental khusus untuk pria dan bantuan ekonomi bagi keluarga yang mengalami kesulitan dapat membantu mengurangi tekanan penyebab perceraian.

□□□》 PERUBAHAN PARADIGMA GENDER

Mendorong pemahaman tentang peran setara dalam rumah tangga menjadi penting untuk mengurangi beban suami. Masyarakat perlu menerima bahwa kedua pasangan memiliki peran sama pentingnya dalam mendukung keluarga secara ekonomi dan emosional.

●》PERAN KELUARGA BESAR DAN MASYARAKAT

Keluarga besar dan lingkungan sekitar perlu memberikan dukungan tanpa penilaian. Menghindari komentar merendahkan atau membandingkan kondisi suami dengan orang lain dapat membantu mengurangi tekanan psikologis yang dialaminya.

□□□□□□》KESIMPULAN AKHIR.

Maraknya perceraian saat suami bermasalah merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berhubungan, antara lain tekanan ekonomi, penarikan diri emosional, perubahan dinamika peran keluarga, harapan sosial yang tidak realistis, dan kurangnya pemahaman serta dukungan antar pasangan. Fenomena ini erat kaitannya dengan kondisi pria yang terpuruk sebagaimana diulas dalam kajian sebelumnya. Penyelesaian isu ini memerlukan upaya bersama dari masyarakat, pemerintah, lembaga sosial, dan individu untuk meningkatkan pemahaman, menyediakan dukungan yang tepat, serta mengubah paradigma sosial yang ada. Dengan demikian, diharapkan angka perceraian dapat ditekan dan keluarga dapat melalui masa sulit dengan lebih baik untuk membangun hubungan harmonis dan langgeng.

Salam Hormat,
Bang Haji Bogor Raya
Tukang Kayu Pinggiran Jalan Sukahati
Cp. 0818-966-234

suara buana
suara buanahttps://suarabuana.com/
https://suarabuana.com/