JAKARTA, SUARABUANA.com
Sulit membayangkan, bila seorang mantan Jaksa Agung Republik Indonesia dikisahkan pernah berjualan es lilin di pasar. Namun itulah legenda yang mengiringi perjalanan panjang Pahlawan Nasional, bernama; Kasman Singodimedjo.
Perannya tidak bisa dikatakan sepele, karena memiliki riwayat panjang, dari angkat senjata hingga meja perundingan, sampai masa-masa awal republik ini berdiri. Ia tercatat pernah menjadi Jaksa Agung, pada masa awal Republik Indonesia. Sebelumnya sempat memimpin parlemen ketika negara baru lahir.
Kasman Singodimedjo dalam ingatan orang-orang dekatnya, adalah sosok yang tegas, kritis, berani, dan tidak gentar dihadapan siapapun, kecuali kepada Allah SWT.
Ketegasan itu membuatnya sering tampil lantang ketika berbicara dalam forum dan tidak sedikit yang memberinya julukan dengan Singa Podium.
Bahkan dengan kemampuan organisatorisnya, Kasman juga banyak dapat julukan sebagai ‘Singa di Meja’, sebuah julukan yang cocok dengan nama ayah yang disandang di belakang nama Kasman, yaitu Singodimedjo.
Kasman Singodimedjo tokoh nasional yang lahir di Purworejo yang merupakan kabupaten kecil di Jawa Tengah bagian selatan dimana banyak tokoh besar lahir di daerah tersebut, misalnya; WR Soepratman, Jenderal Oerip Soemoharjo, Jenderal Achmad Yani, hingga Sarwo Edhi Wibowo. Sehingga dengan demikian, membuatnya menjadi salah satu di antara kepingan ‘Kota Pejuang’ tersebut.
Kasman lahir di Desa Clapar, Kecamatan Bagelen, dan menghabiskan masa anak-anak hingga remaja di desa di tepian Sungai Bogowonto tersebut.
Mitos Jualan Es Lilin?
Nama Kasman Singodimedjo kerap dikaitkan dengan kisah sederhana yang menyentuh: mantan pejabat tinggi negara yang konon pernah berjualan es lilin di pasar.
Cerita itu beredar luas dari mulut ke mulut dan sering dijadikan simbol kesederhanaan serta kejujuran seorang tokoh republik.
Kisah tersebut biasanya dimulai dari masa setelah Kasman tak lagi berada di lingkar kekuasaan.
Pada awal kemerdekaan, ia pernah dipercaya menduduki jabatan penting sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia.
Namun setelah tak lagi menjabat, kehidupannya berubah drastis. Ia tidak meninggalkan kekayaan, rumah besar, ataupun fasilitas mewah seperti yang sering melekat pada pejabat negara.
Dalam berbagai cerita yang berkembang, Kasman disebut menjalani hidup sederhana dengan melakukan berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Ada yang menyebut ia pernah menjajakan es lilin, memanggul semen sebagai kuli bangunan, hingga bekerja sebagai penjaga keamanan.
Gambaran itu memperlihatkan kontras yang tajam antara masa ketika ia berada di kursi kekuasaan dengan kehidupan setelahnya.
Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah ketika seorang sahabat seperjuangannya melihat Kasman memanggul beban berat di tempat kerja.
Sahabat itu merasa iba melihat mantan pejabat tinggi negara hidup dalam kesulitan. Namun Kasman menanggapinya dengan tenang.
Baginya, hidup sederhana bukanlah persoalan selama tidak mengambil hak rakyat. Ia lebih memilih hidup apa adanya daripada memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri.
Kisah tentang es lilin itu mungkin benar, mungkin juga hanya legenda.
Namun yang pasti, Kasman Singodimedjo adalah satu di antara contoh langka pejabat republik yang memilih miskin daripada mengambil hak rakyat. (FC-G65)
Sumber:
Konteks dan dari beberapa tulisan.



