Oleh: Ketua Kantor Hukum ABRI
Ketika ego lebih tinggi dari rasa,
dan ketika ego dianggap sebagai harga diri yang harus diperjuangkan, dipertahankan, serta dijadikan dasar untuk mempertahankan keakuan diri,
maka mulailah rasa terkikis perlahan, berubah menjadi sikap saling diam, dan lama-kelamaan memunculkan sikap apatis di antara keduanya.
Rumah tangga bukanlah arena pertandingan untuk memperebutkan menang atau kalah, bukan pula tempat bersaing demi mempertahankan sikap yang mementingkan diri sendiri.
Rumah tangga adalah sarana untuk memadu kasih, menjalin kehangatan, dan membina keutuhan keluarga , bukan ajang adu kekuasaan atau tempat bersikap egois.
Apabila suami atau istri selalu ingin merasa benar dan menang, tidak ada yang mau mengalah, serta menolak mendengar nasihat, maka rumah tangga pun berubah menjadi arena perseteruan yang tersembunyi. Ia tak lagi menjadi tempat berteduh hati maupun tempat beristirahat dengan tenang.
Masalah besar tidak selalu berawal dari hal yang rumit. Seringkali bermula dari perselisihan kecil yang dipupuk oleh ego, lalu tumbuh menjadi adu gengsi yang makin membesar. Lama-kelamaan hal ini mengikis perasaan, hingga berubah menjadi keinginan untuk saling membuktikan diri.
Rumah tangga bukan soal siapa yang lebih hebat atau lebih berkuasa, melainkan siapa yang lebih rela menundukkan egonya demi kebahagiaan bersama. Tanpa kesediaan itu, cinta akan runtuh perlahan, digantikan oleh sikap dingin dan jarak yang makin melebar.
●》 “Kemenangan terbesar dalam rumah tangga bukanlah ketika kita selalu merasa benar, melainkan ketika kita mampu menjaga keutuhan dan kebahagiaan keluarga dengan hati yang lapang.”
Salam Hormat,
Anda membutuhkan bantuan hukum?
📞 Hubungi: 0818.966.234
#RumahTanggaBahagia #CintaDanKasih #TanpaEgo #KeluargaUtuh #KemenanganBersama #JagaPerasaan #RumahTanggaBukanArenaPersaingan #KasihSayang #KeluargaHarmonis #MenundukkanEgo #PelajaranKehidupan #NasihatKeluarga
