BerandaJawa TimurPNIB : Deforestasi Di Papua Adalah Bentuk Intoleransi Kepada Alam, Tolak Neo...

PNIB : Deforestasi Di Papua Adalah Bentuk Intoleransi Kepada Alam, Tolak Neo VOC, Kekayaan SDA Untuk Kesejahteraan Rakyat Dan Kemakmuran Bangsa Harga Mati!

Surabaya, Suarabuana.com_
Pembabatan hutan (Deforestasi) untuk kepentingan industri sudah terjadi secara masive dan terorganisir. Gambaran nyata bisa kita saksikan dalam film ‘Pesta Babi’ yang belakangan ramai diperbincangkan publik.

Tanah Papua sedang dijadikan target penguasaan industri perkebunan berskala Internasional. Dengan berdalih program swasembada pangan, hutan di Papua selatan dijadikan lahan perkebunan seluas lebih dari 1 juta hektar.

Ketua Umum PNIB, ormas kebhinekaan, lintas Agama, anti intoleransi dan Khilafah radikalisme Terorisne, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) menyampaikan penolakannya dalam sebuah wawancara bersama awak media.

“Deforestasi itu bentuk intolerasi kepada alam, budaya dan tradisi. Warga papua yang hidup dalam kearifan lokal bersama harmonisasi alam kehilangan hutan yang menjadi rumah mereka. Dibabat habis untuk kepentingan industri tanpa memperhatikan masa depan warga, adat, tradisi dan budaya adalah arogansi nyata yang dilegalkan oleh para oknum penguasa yang bekerja sama dengan oligarki” ungkap Gus Wal.

Kondisi tanah Papua yang sedang digunduli hutannya menjadi pembicaraan yang ramai di publik. Kebijakan industrialisasi di tanah adat tidak hanya di tanah Papua, tapi bisa terjadi dimana saja demi menuruti kepentingan konglomerat bisnis.

“Hari ini Papua besok bisa di Sulawesi, lusa bisa saja tanah adat suku di Nusa Tenggara atau Maluku. Kepentingan bisnis tidak peduli tempat dan waktu. Dimana ada tanah kosong mereka tinggal tunjuk untuk dijadikan lokasi industri. Ini yang harus kita pikirkan bersama untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, tanah adat, budaya dan tradisi saat dihabisi oleh industri yang dholim terhadap masa depan warga” imbuh Gus Wal.

Kegelisahan Gus Wal dan PNIB menjadi keresahan yang sama dengan masyarakat adat lainnya. Menurutnya, penguasa hanya akan kalah dengan persatuan dan kesatuan rakyat.

“Kita yang sedang terancam intoleransi industri sudah waktunya bersatu. Jangan pernah mau dipecah belah dengan iming-iming materi, namun akhirnya tidak punya lagi jati diri di tanah sendiri. Penguasa hanya segelintir orang yang memiliki pangkat dan jabatan. Kita ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan bahkan ratusan juta jumlahnya apabila bersatu akan menjadi sebuah kekuatan atas dasar nasib yang sama” lanjutnya.

Konglomerat industri menurut Gus Wal adalah jargon kapitalis dan kolonialis asing yang harus dilawan.

“Para pendiri bangsa berhasil menumpas kongsi dagang VOC yang menjadikan kita negara jajahan. Hari ini mereka datang lagi dalam bentuk lain. Jangan sampai kita dijajah kepentingan dagang lagi, Kekayaan SDA Indonesia untuk kesejahteraan rakyat dan kemakmuran bangsa adalah harga mati, Indonesia Not For Sale, Dan Indonesia Menolak Khilafah Radikalisme Terorisme Sampai Kiamat” pungkas Gus Wal. (AGUNG)

suara buana
suara buanahttps://suarabuana.com/
https://suarabuana.com/
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments