Jombang, Suarabuana.com_
Perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah di Indonesia menjadi bentuk keragaman ilmu disatukan oleh kebersamaan Ramadhan. Saling menghormati keyakinan menjadi tradisi dan budaya keislaman yang diwariskan oleh para leluhur.
“Kiblat dan tradisi kita masih sama meskipun bulan Syawal secara perhitungan kalender kita mengalami perbedaan di tahun ini. Bangsa ini sudah dewasa memahami perbedaan dalam kemajemukan. Ini yang lebih ditekankan daripada perbedaan itu sendiri. Jadi kita tidak berbicara lagi tentang versi NU atau ala Muhammadiyah. Tetapi kebersamaan dalam perbedaan itu adalah anugerah” papar Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) menanggapi hasil sidang Isbat penetapan 1 Syawal hari ini.
PNIB yang lahir dari kemajemukan budaya dan tradisi menjadi ormas yang masih konsisten menghapus segala upaya intoleransi yang masih terjadi. PNIB yang juga gencar menyuarakan Nasionalisme kebangsaan meyakini bahwa toleransi adalah perekat sesungguhnya persatuan bangsa ini.
“Toleransi ibarat berjalan bersama di titian masing-masing tanpa saling menjatuhnya. Justru saling bergandeng tangan memperkuat langkah menjadi prinsip saling menguatkan. Provokasi, intimidasi, propaganda akan tetap ada di tengah persaingan peradaban. Banyak negara lain terpecah belah karena perbedaan, kita semestinya belajar dari itu semua. Jika negara sudah terlanjur hancur, maka masa depan kita dimulai dari nol lagi” ungkap Gus Wal.
Krisis multidimensi yang sedang dialami bangsa ini menurut Gus Wal butuh kerja sama untuk mengatasinya. Momentum Idul Fitri menjadi simpul introspeksi bahwa kemenangan melawan hawa nafsu tidak boleh berhenti.
“Perlawanan pada hawa nafsu usai Idul Fitri tidak boleh berhenti. Nafsu berkuasa, korupsi, pemaksaan kehendak akan terus ada di sekitar kita. Jika kita menyadari bahwa itu adalah musuh sejatinya pikiran kita, maka toleransi adalah harga mati yang bisa kita lakukan baik secara pribadi maupun kelompok. PNIB di tengah keterbatasan selalu berupaya menjaga itu” Tegas Gus Wal.
Idul Fitri menjadi Refleksi bagi anak bangsa untuk senantiasa bersatu kembali ke Fitri (Kesucian) , Idu Fitri menjadi Pengingat Untuk Jangan Pernah Lelah Mencintai Sesama Anak Bangsa dan Indonesia meski krisis multi dimensi dan apapun Keadaannya, ldul Fitri juga menjadi Penegas bagi bangsa Indonesia saatnya Berthoharoh dari Intoleransi, Khilafah, Radikalisme Terorisme yang kian massive disekitar kita, awasi anak anak kita terutama remaja dalam liburan kali ini jangan terlalu sering dibiarkan memegang HP/gadget karena persebaran terorisme kini lebih banyak menyasar remaja dan pemuda tanggung melalui sosmed dan game online, pungkas Gus Wal. (AGUNG)



