Cirebon, Suarabuana.com_
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH. Imam Jazuli menyampaikan, diskursus kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU), posisi Rais Aam bukan sekadar jabatan administratif, melainkan manifestasi dari maqam (kedudukan) spiritual dan intelektual tertinggi. la adalah penjaga gawang ideologi sekaligus kompas moral bagi jutaan nahdliyin
“Di tengah disrupsi zaman yang kian menderu, sosok KH. Kafabihi Mahrus muncul bukan hanya sebagai kandidat, melainkan sebuah kebutuhan sejarah bagi struktur PBNU,” kata Kiai Imam.
la juga menyebutkan beberapa alasan mengapa pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo ini merupakan figur yang kompeten untuk mengemban amanah sebagai Rais Aam di PBNU.
*Pertama. Kedalaman Epistemologi: Aliman dan Faqihan*
Menurutnya, keabsahan kepemimpinan dalam tradisi pesantren mutlak bersandar pada penguasaan literatur klasik (turats). Kiai Kafabihi adalah representasi murni dari transmisi keilmuan yang tidak terputus (isnad).
Sebagai figur yang tumbuh dalam ekosistem intelektual Lirboyo, beliau memiliki ketajaman dalam metodologi istinbath al-hukm (pengambilan keputusan hukum). Di tengah arus liberalisme dan konservatisme ekstrem, sosok faqih (ahli fiqh) yang moderat seperti beliau sangat dibutuhkan untuk memastikan fatwa-fatwa NU tetap relevan namun tidak tercerabut dari akar tradisi.
“Beliau tidak hanya menghafal teks, tetapi memahami illat (alasan logis) di balik teks tersebut. Kapasitas aliman (berilmu luas) ini menjamin bahwa setiap kebijakan besar PBNU nantinya akan memiliki landasan teologis yang kokoh,” ungkapnya.
*Kedua. Integritas Moral: Zahidan di Tengah Arus Materialisme*
Menurut Kiai Imam, tantangan terbesar pemimpin organisasi besar seperti NU adalah tarikan kepentingan duniawi. Di sinilah atribut Zuhud (kesalehan asketik) Kiai Kafabihi menjadi pembeda. la dikenal sebagai pribadi yang “selesai dengan dirinya sendiri.” Sikap zahidan bukan berarti menjauhi dunia, melainkan tidak membiarkan dunia mengendalikan hatinya.
“Dalam konteks PBNU, ini adalah benteng integritas. Seorang Rais Aam yang zahid akan menjaga marwah organisasi agar tidak terseret dalam pragmatisme politik pendek atau kepentingan transaksional, menjaga NU tetap pada khittah pengabdian umat,” ujarnya.
*Ketiga. Lirboyo sebagai Episentrum Kultural dan Struktural*
Memahami NU, kata Kiai Imam, tidak bisa dilepaskan dari memahami pesantren, dan membicarakan pesantren di Indonesia mustahil tanpa menyebut Lirboyo. Lirboyo adalah “pabrik” pencetak ulama. Ribuan alumni yang tersebar di seluruh pelosok negeri merupakan grassroot yang solid. Memilih Kiai Kafabihi berarti menyambungkan kembali kabel struktural PBNU dengan basis kultural paling organik di Indonesia.
“Lirboyo seringkali menjadi titik temu bagi berbagai faksi di NU. Kepemimpinan Kiai Kafabihi akan berfungsi sebagai pemersatu (integrator) yang mampu mencairkan ketegangan antar faksi karena wibawa kediaman (Lirboyo) yang diakui secara universal oleh warga nahdliyin,” kata Kiai Imam.
*Keempat. Visi Strategis: Memahami Internal dan Eksternal NU*
Menurutnya, Kiai Kafabihi bukan tipikal ulama yang hanya “mengurung diri” di dalam kitab. la memiliki kepekaan sosiologis yang tajam. Kiai Kafabihi juga sangat memahami anatomi organisasi NU, dari dinamika syuriah-tanfidziyah hingga psikologi kaum santri.
“Beliau juga mampu berdialog dengan dunia luar, baik pemerintah maupun Ormas Islam lainnya, tanpa kehilangan identitas kesantriannya. Kemampuan membaca tanda-tanda zaman ini memastikan NU tetap menjadi pemain kunci dalam diplomasi Islam moderat,” ujar Kiai Imam.
*Islah Lirboyo: Bukti Soliditas dan Kepemimpinan Nyata*
Salah satu argumen paling empiris mengenai kecakapan manajerial dan kewibawaan Kiai Kafabihi, lanjut Kiai Imam, adalah peristiwa Islah di Lirboyo. Keberhasilan menyatukan berbagai pandangan dalam internal keluarga besar dan alumni Lirboyo adalah prototipe dari apa yang bisa beliau lakukan untuk NU
Menurutnya, kepemimpinan yang efektif bukan diukur dari retorika, melainkan dari kemampuan menciptakan harmoni di tengah perbedaan. Kesolidan jaringan alumni Lirboyo di bawah bimbingan beliau adalah bukti otentik bahwa Kiai Kafabihi memiliki tangan dingin dalam mengelola struktur yang masif.
la juga menilai, menjadikan KH. Kafabihi Mahrus sebagai Rais Aam PBNU bukan sekadar rotasi kepemimpinan rutin. Ini adalah upaya restorasi marwah ulama. Dengan perpaduan sifat aliman, faqihan, zahidan, serta dukungan basis massa Lirboyo yang tak tertandingi, NU akan memiliki jangkar yang kuat untuk menghadapi badai zaman.
“Terakhir, sekali lagi beliau adalah jembatan antara kemuliaan masa lalu dan tantangan masa depan. Di tangan ulama yang mumpuni secara intelektual dan kokoh secara spiritual inilah, masa depan jam’iyyah Nahdlatul Ulama berada pada jalur yang benar. Wallahu’alam bishawab,” pungkas Kiai Imam. (AGUNG)



